Bias Pandangan

Siang yang terik, matahari sedang tepat berada diatas kepalanya membuat Surya memilih berteduh dibawah pohon besar yang nyaman, tetapi matanya terlihat sendu saat melihat pikulan yang berisi sayuran kangkung itu masih penuh. Suara perut yang gaduhpun semakin terdengar jelas, ia pun merogoh sakunya yang tidak terisi apapun, sepertinya ia harus menahan rasa lapar ini sedikit lagi..

Dia rasanya ingin menangis, tetapi orang miskin sepertinya tidak punya waktu untuk itu. Yang bisa ia lakukan adalah melakukan semua usaha lebih keras, karena menangis tidak akan mendapatkan uang dan membuat ia dan keluarganya kenyang.

Dengan nafas yang berat ia bangkit dan memikul dagangannya pada pundak yang terlapisi kain usang. Dia tidak memiliki banyak pakaian, ini saja pakaian yang sudah dua hari ia pakai, toh uang untuk membeli detergen hanya akan mengurangi jumlah uang yang harus ia kirimkan ke kampung, jadi itu hal yang harus ia hindari.

Selama berjalan ada banyak yang sudah ia tawarkan sayurannya tetapi mereka berdalih harganya terlalu mahal untuk seikat sayur yang baru dipetiknya pagi tadi pada tanah saudagar yang menjual murah sayurannya. Dia tidak terlalu ambil pusing mungkin memang rezekinya bukan pada mereka, maka Surya kembali berjalan dan menawarkan pada setiap rumah yang ia lewati.

"Sayur kangkungnya bu," Surya berhenti pada sebuah warung makan kecil yang sedang dirapihkan karena sudah habis lauk-lauk yang dihidangkannya.

Ibu yang sedang merapihkan warung itupun keluar dan berjalan mendekati Surya. Dilihatnya kangkung itu dan dibolak-balikan untuk memastikan kondisi sayur yang akan dibelinya.

"Berapaan mang?" Tanya ibu itu sambil mengambil lagi beberapa ikat kangkung di pikulannya.

"Udahlah bu tiga ikat lima ribu atau kalo kemahalan sok lah ibu tawar aja" Ibu itu tersenyum lalu mengambil lagi kangkung lainnya.

"Ini saya ambil enam ikat, sepuluh ribu kan jadinya?" Surya mengangguk dengan cepat, ia merasakan kelegaan di dalam dadanya melihat akan ada uang yang akan ia dapatkan.

Saat Ibu itu membayar belanjannya, terdengar suara gemuruh kencang dari perut Surya yang belum terisi makanan, keduanya terlihat kaget. Tetapi sang Ibu langsung tersenyum sedangkan Surya menepuk-nepuk perutnya dengan pelan.

"Belum makan mang? Yuk makan dulu saja, tadi masih ada sedikit lauk yang kesisa di dapur," Ibu itu menepuk pikulan Surya yang masih tersampir dibahunya untuk segera diturunkan.

Tapi Surya terlihat bingung, bagaimana jika harga makanan di warung ini mahal, dia sudah biasa membeli makan di warung Bi Emi dengan nasi dan serpihan serundeng terkadang jika beruntung maka akan ditambah kuah semur.

"Saya kasih gratis kok," ucap Ibu warung karena paham dengan raut wajah bingung Surya yang tampak jelas diwajahnya.

"Makasih bu," dengan gerakan pelan Surya menurunkan pikulannya.

"saya disini saja bu, didalam sudah dibersihkan nanti kotor lagi" Ucapnya saat melihat sang Ibu warung berjalan memasuki pintu.

"Yasudah, tunggu disini cari tempat yang adem ya." Suryapun mengangguk dan Menghampiri kursi plastik yang ada di pojok warung tersebut.

Selang beberapa menit, Ibu itupun keluar kembali dengan kresek yang berisi nasi bungkus dan esteh yang sudah diikat dalam plastik. Surya tersenyum hatinya berbisik 'panjang umur kebaikan'.

"Nih kamu makan, disini nanti kamu ga nyaman. Kamu lihat disana ada minimarket yang ada tempat duduk diluarnya? Nah kamu makan disana saja" Surya mengangguk sambil memperhatikan arah telunjuk si Ibu warung, dengan sedikit menyipitkan matanya ia pun melihat tempat yang ibu itu jelaskan.

"Makasih banyak bu, maaf ngerepotin," Sang ibu hanya tersenyum kecil dan menepuk pelan pundak Surya seakan mengatakan 'semangat, hidup ini memang berat'

"Yasudah, makasih juga ya ini kangkungnya. Saya masuk dulu," 

---

Surya sudah menghabiskan makanan yang ibu warung itu berikan, sungguh ia tidak menyangka akan diberikan Ayam dan sayur sebagai lauk makanannya. Sudah berapa lama ia tidak menyantap daging seperti itu, pada Idul Adha pun dia terkadang tidak mendapat jatah bagian apalagi jika merayakan di kampungnya sudah tidak perlu berharap. lalu Surya terkekeh karena terfikirkan bagaimana bisa mendapat daging, yang berqurbanpun tidak ada.

Sambil menunggu makanannya turun Surya memperhatikan sekitarnya yang terlihat sepi senggang, hanya ada penjual gorengan diujung sana yang sedang duduk sambil menatap jalanan yang kosong seakan jika ia memperhatikan jalanan tersebut maka akan mendatangkan banyak pembeli.

Ingin rasanya ia berjualan dengan hanya berdiam disuatu tempat seperti itu, ia sempat mencoba melamar untuk hanya menjadi penjaga kios kecil tapi ditolak dengan alasan mereka perlu pegaiw yang lebih rapih dan bersih padahal saat itu ia telah memakai baju terbaik yang ia miliki di lemarinya. Kalau untuk membuka usaha sendiripun modal uangnya pun belum cukup.

Getaran handphone membuat Surya terkesiap dari lamunanya, ia mengeluarkan handphonenya yang kecil yang hanya bisa digunakan untuk bertukar pesan atau suara dengan keluarga kecilnya dikampung, ada satu pesan yang masuk.

 Istri

Mas, persediaan makanan sudah habis. Bu jum udah gabisa ngasih utang ke kita karena yang kemarin belum dibayar, lalu bagaimana?

Keputusan yang salah untuk membuka benda kecil ini sekarang, karena tiba-tiba preutnya menjadi mual dan rasa bersalah menghantamnya berkali-kali.

Bagaimana ia bisa makan dengan tenang dan kenyang sedangkan keluarganya di kampung kelaparan? Bagaimana ia bisa duduk bersantai padahal banyak yang harus ia kerjakan? 

Dititik ini rasanya ia selalu ingin menyerah, pikiran egois untuk mementingkan dirinya sendiri sering terlintas dibenaknya. Ingin rasanya ia hidup hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup dirinya sendiri tapi keputusannya saat memutuskan menyunting seorang perempuan harus ia tanggung jawabkan

"Kadang tuh gua suka heran sama yang rantau ke Jakarta tapi kerjanya jadi asongan atau ga ya kerja apa aja deh, padahal kan pendapatannya kecil."

Mendengar kata rantau membuat Surya merasa terusik, kupingnya menjadi lebih peka saat mendengar perbincangan dua perempuan muda yang keluar dari minimarket dengan kresek putih berisi dengan penuh makanan.

"Ya pendidikannya juga ga mumpuni si, karena gaada skill jadi mereka bakal nerima kerjaan apa aja," Surya mengalihkan pandangannya ke lain arah saat melihat kedua perempuan ini duduk di kursi lain.

"Iya ya, kenapa ga bikin inovasi sendiri. Jualan apa gitu kan jenis Makanan sekarang banyak juga, modalnya juga ga banyak," Salah satu perempuan lainnya hanya merespon dengan mengangkat bahu dan membuka jajanan yang baru dibelinya.

Ah Surya tidak akan sanggup lagi mendengar percakapan lainnya, dengan gerakan kasar Surya berdiri dan menaruh pikulan yang berisi kangkungnya di pundaknya dengan keras.

Dua wanita itupun sedikit terlonjak dan melirik Surya, merasa bersalah Suryapun mengangguk dan pergi meninggalkan tempat itu untuk berjualan saja sambil berjalan pulang.

"Kayak abang-abang itu, emang worth it ya keliling cuman bawa dagangan segitu trus dapet uang yang ga seberapa" Suara itu masuk dengan jelas pada kupingnya sebelum ia benar-benar jauh dari mininarket itu.

---

Sesampainya di rumah, Surya pun langsung duduk dan bersandar pada tembok di ruangan kecil yang disewannya pada lingkungan yang kumuh, dilihat kulit kakinya yang lecet sambil memijat betisnya yang terasa pegal. Suara nafasnya yang berat tidak terdengar tertutup oleh kebisingan suara tetangga lainnya yang hidup berdesakkan dengan dirinya.

Tangannya merogoh kantung celana yang terdapat dua lembar uang berjumlah sepuluh ribu, tadi saat ia berjalan pulang syukurnya ada beberapa ibu-ibu yang membeli kangkungnya sehingga dagangannya pun habis untuk hari ini.

Besok sepertinya Surya tidak dapat berjualan kangkung, karena persediaan kangkung dikebun saudagar itu sudah habis, maka sepertinya ia harus berkeliling menawarkan jasa kuli bangunan bagi siapa saja yang membutuhkannya.

Surya merasakan getar pada ponselnya yang terdapat satu pesan masuk, dia melihat siapa yang mengirimnya dan ternyata itu adalah istrinya yang kembali memberitahu bahwa mereka kekurangan uang untuk makan.

Surya memejamkan matanya, kenapa rasanya makin hari terasa makin berat. Dia sudah tidak sanggup lagi tuhan.

Perbincangan dua wanita siang tadi kembali mengusiknya, dia tersenyum miris mengigat itu.

Dua perempuan itu tidak sepenuhnya salah, tapi rasanya Surya ingin menjawab bagaimana ia bisa  memikirkan pendidikan sedangkan untuk uang makan untuk hari esok saja dia kebingungan. Bagaimana dia memikirkan inovasi jika satu hari waktunya dihabiskan untuk berfikir maka tidak ada uang untuk esok hari.

Lingkaran kemiskinan ini seperti rantai kuat yang sulit terputus, Surya selalu berandai-andai jika saja ia dilahirkan dari keluarga yang berkecukupan pasti dia tidak akan khawatir hanyak untuk makan sesuap nasi.

Perasaan ingin menyalahkan takdir akan selalu muncul, kenapa aku dilahirkan? Kenapa dilahirkan pada kelurga miskin? 

Apakah anaknya nanti akan merasaka seperti yang ia rasakan, merasa menyesal telah dilahirkan, merasa menyesal terlahir di keluarganya yang kekurangan ini. Jika seperti ini rasanya ia menyesal karena telah membuat anaknya terlahir ke dunia dan merasa kesulitan.

Tidak terasa air mata telah mengalir dari ujung matanya yang sudah tidak sanggup menampung penderitaan ini. Suara isakan kecil terdengar, dia sering mendengar perkataan masyarakat tentang orang miskin itu ya seperti itu karena malas, kemudian rasanya ia ingin bertanya lalu harus sekeras apalagi dia berusaha? 

Mereka semua befikir dengan sudut pandang bahwa semua manusia memiliki latar yang sama, lalu menyalahkan kaum seperti Surya yang tidak terdidik dengan baik sehingga menimbulkan masalah sosial, menyalahkan kebodohan dirinya yang hanya bisa bekerja dengan fisik, hanya menyalahkan dirinya yang tidak dapat membuat inovasi.

Mereka berfikir Surya tidak cukup keras berusaha untuk berubah, padahal setiap hari rasanya ia sudah melakukan apapun untuk bertahan hidup, tetapi Surya kembali bersyukur kewarasannya selalu hadir tepat waktu. Mau sekeras apapun dia mengeluh keadaan tetap sama maka ia menenangkan perasannya yang kalut.

Di dunia ini bukan hanya dia yang merasakan kesusahan ini, dia hanya cukup perlu bertahan dengan dirinya sendiri. Entah apakah ada balasan baik nantinya setelah perjalanan panjang ini atau memang ujian dunianya akan berbuah manis diakhirat nanti. Hanya pemikiran sederhana itu yang mampu menenangkannya, dia tidak bisa mengendalikan pemikiran seseorang tapi ia bisa mengendalikan pemikirannya sendiri, maka dia memilih untuk kembali berdamai dengan dirinya sendiri sekali lagi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Comeback stage🌼

cuap-cuap🙌🙌